Rabu, 08 Maret 2017

TENTANG GASHUKU TAHUN 2017



Untuk kesekian kali  saya mengikuti “gashuku”. Gashuku yang dalam bahasa Jepang berarti : “belajar” dan “menginap” adalah sebuah kegiatan belajar sambil menginap di satu tempat tertentu. Gashuku amat lazim diadakan di Jepang sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar entah di sekolah atau perguruan tinggi ataupun di dojo.

Tujuannya adalah agar sebuah kegiatan, apakah itu dalam bentuk seminar, bimbingan, atau yang lain dapat diadakan lebih terfokus, konsen, dengan waktu yang lebih panjang. Kedua, untuk mengakrabkan. Dan terakhir sekaligus berdarmawisata (yang ini tentatif).

Kami Karate-Ka di Indonesia kerap menyebut kegiatan ini sebagai seminar teknik. Tetapi bukan seminar yang dipahami sebgai seminar biasa yang mengundang banyak orang. Lebih tepatnya seminar antar sesama rekan – rekan Karate-Ka Perguruan Gojukai Indonesia. Artinya sama saja dengan kegiatan belajar dan berlatih hanya harus menginap dan atau diadakan ditempat lain yang jauh dari tempat kita tinggal.

Ini adalah sekilan kali saya mengikuti kegiatan gashuku Karate-Do Gojukai Indonesia. Diantaranya diselingin istirahat selain belajar dan berlatih kegiatan ini juga terasa mengakrabkan. Obrolan lebih terasa mendalam. Terutama dengan para sahabat karateka Gojukai.

Minggu, 29 Januari 2017

KARATE MEANS KEEP SMILING IN ALL SITUATIONS

'KARATE MEANS KEEP SMILING IN ALL SITUATIONS'


Di Pulau Okinawa,Jepang,Pernah Ada Guru Karate yang Disegani.
Di Suatu Latihan, Murid nya Bertanya,Apakah Karate itu ?
Dengan Tersenyum Ia Menjawab :
'Karate Means Keep Smiling in All Situations'.
Karate Berarti Tersenyum Di Semua Keadaan.
Dan Muridnya Bingung. Hanya Karena Segan, Kemudian Ia Diam.

Sepulang Latihan,Murid Ini Menemui Tentara Amerika Mabuk yang Mau Membuat Keributan Di Jalan.

Murid Karate Ini Panas. Begitu Siap Berkelahi, Tiba - Tiba Gurunya Muncul Dengan Penuh Senyuman Menyambut Tentara - Tentara Tadi : 'Selamat Datang Di Okinawa, Anda Pasti Sudah Menikmati Keindahan Okinawa', Dan Selanjutnya Tidak Saja Perkelahian Bisa Dihindarkan, Persahabatan Dengan Tentara Amerika Juga Berjalan Baik-Baik Saja.




PERENCANAAN PENGENALAN DAN PELATIHAN OLAH RAGA KARATE UNTUK ANAK USIA DINI


PERENCANAAN PENGENALAN DAN PELATIHAN OLAH RAGA KARATE UNTUK ANAK USIA DINI

Oleh : Eko Yulianto

A.   Hakikat Anak Usia Dini

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.
1.     Anak bersifat unik.
2.     Anak mengekspresikan perilakunya secara relative spontan.
3.     Anak bersifat aktif dan enerjik.
4.     Anak itu egosentris.
5.     Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.
6.     Anak bersifat eksploratif dan berjiwa  petualang.
7.     Anak umumnya kaya dengan fantasi.
8.     Anak masih mudah frustrasi.
9.     Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.
10.  Anak memiliki daya perhatian yang pendek.
11.  Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.
12.  Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.

B.   Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini

Anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa.    

Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini. Adapun karakterisktik cara belajar anak menurut Masitoh dkk. (2009: 6.9 – 6.12) adalah :
1.         Anak belajar melalui bermain .
2.         Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya.
3.         Anak belajar secara alamiah.
4.         Anak belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, bermakna, menarik, dan fungsional.

Dalam hal ini yang dapat diadopsi oleh pelatih Karate sebagai berikut :
1.         Anak belajar melalui bermain dengan peralatan dan alat peraga (baju, sabuk, hand protech, makiwara).
2.         Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya misalkan tentang warna sabuk dan lainnya.
3.         Anak belajar secara alamiah melalui berbicang, bertanya dan mendapat jawaban.
4.         Anak belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, bermakna, menarik, dan fungsional.
5.         Waktu latihannya hanya 45 menit diselingi istirahat 2 kali.


C.     Karakteristik Pelatihan Olahrag Karate untuk Anak Usia Dini

Kegiatan Pembinaan Olahraga Karate pada anak usia dini, ada dasarnya adalah pengembangan linguistik,  komunikasi verbal dan psikomotorik,   yang diberikan pada anak usia dini berdasarkan potensi dan perkembangan yang harus  dimiliki oleh anak.

Atas dasar pendapat di atas dapat dinyatakan bahwa pelatihan olah raga karate untuk anak usia dini memiliki karakteristik sebagai berikut.

1.  Belajar  dan ermain

Pelatihan  olah raga karate untuk anak usia dini menggunakan prinsip belajar, dan  bermain, sehingga dapat diwujudkan sedemikian rupa dengan membuat anak aktif, senang, bebas.  Anak-anak belajar melalui interaksi dengan alat-alat permainan dan perlengkapan serta manusia. Anak belajar berlatih karate dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan. Hasil belajar anak menjadi lebih baik jika kegiatan belajar dilakukan dengan teman sebayanya. Dalam belajar, anak menggunakan seluruh alat inderanya.

2.  Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan

Pelatihan  olah raga karate yang berorientasi pada perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu : 1) berorientasi pada usia yang tepat, 2) berorientasi pada individu yang tepat, dan 3) berorientasi pada konteks social budaya.

Pelatihan  olah raga karate yang berorientasi pada perkembangan harus sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diminati, kemampuan yang diharapkan dapat dicapai, serta kegiatan belajar tersebut menantang untuk dilakukan anak di usia tersebut.

Manusia merupakan makhluk individu. Perbedaan individual juga harus manjadi pertimbangan pelatih cerdas dalam merancang, menerapkan, mengevaluasi kegiatan, berinteraksi, dan memenuhi harapan anak.

Selain berorientasi pada usia dan individu yang tepat, pelatihan olah raga karate berorientasi perkembangan harus mempertimbangkan konteks sosial budaya anak. Untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang bermakna, guru hendaknya melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat, faktor budaya yang melingkupinya.

D.   Kriteria Pemilihan Strategi Pelatihan Olahraga Karate

Strategi pelatihan olah raga karate sebagai segala usaha pelatih dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Ada bermacam-macam strategi pembelajaran yang dapat dipilih oleh pelatih karate. Pemilihan strategi pelatihan hendaknya mempertimbangkan beberapa faktor penting, yaitu: a. karakteristik tujuan pelatihan, b. karakteristik anak dan cara belajarnya, c. tempat berlangsungnya kegiatan belajar, d. tema pembelajaran, serta  e. pola kegiatan.


DAFTAR PUSTAKA
1.      Agus Suprijono. (2009) Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
2.      Masitoh dkk. (2005) Strategi Pembelajaran TK. Jakarta:  Pusat Pnerbit Universitas Terbuka.
3.      Slamet Suyanto. (2005) Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidiikan Tenaga Kependidikan dan Ketegagaan Perguruan Tinggi.
4.      Sujono, Yuliani nurani. (2009) Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:  PT Indeks.
5.      UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Visimedia
6.       Sumber : http://pgpaud.unpkediri.ac.id/index.php/web/detberita/berita/22


Minggu, 01 Mei 2016

Mengembangkan Kemampuan Psikomotorik Anak Usia Dini (4-6 Tahun) Melalui Kegiatan Bermain dan Berlatih Karate-Do


Perkembangan berpikir anak usia Taman Kanak-kanak atau Pra Sekolah juga yang disebut dengan masa keemasan (golden age) berkembang sangat pesat. Perkembangan intelektual anak sangat pesat terjadi pada kurun waktu usia nol sampai usia pra sekolah (0 – 5 tahun). Masa usia Taman Kanak-Kanak itu dapat disebut sebagai masa peka belajar. Dalam masa-masa ini segala potensi kemampuan anak dapat dikembangkan secara optimal, tentunya dari bantuan orang-orang yang berada di lingkungan anak-anak tersebut, misalnya dengan bantuan orang tua dan guru. Salah satu kemampuan anak yang sedang berkembang pesat saat usia taman kanak-kanak adalah kemampuan psikomotorik.

Kemampuan psikomotorik sangat erat kaitannya dengan kesehatan anak. Perkembangan psikomotorik anak usia taman kanak-kanak memang masih jauh dari sempurna, namun demikian potensinya dapat di rangsang lewat kegiatan olahraga ringan yang aktif dengan menggunakan media kegiatan yang baik dan benar. Kualitas kegiatan yang digunakan orang-orang yang dekat dengan anak-anak akan mempengaruhi dalam ketrampilan bergerak dan kesehatan. Di sanggar kegiatan olahraga guru maupun pelatih  merupakan salah seorang yang dapat mempengaruhi perkembangan psikomotorik anak. Guru atau pelatih olahraga khusus usia taman kanak-kanak harus dapat mengupayakan berbagai strategi kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan gerak psikomotori anak.

Pengembangan kemampuan psikomotorik anak di Dojo Karate-Do Gojukai Dojo Masjid PB. Jenderal Soedirman, merupakan prioritas dan merupakan tujuan dari kegiatan olahraga khusus olahraga bela diri Karate-Do khusus anak usia 4-6 tahun. Namun pada kenyataannya masih terdapat kendala dalam kemampuan peserta didik dalam melakukan aktivitas olahraga tersebut. Maka diupayakan dengan menggunakan metode yang tepat yaitu metode berlatih dan bermain Karate-Do, dengan menggunakan metode berlatih dan bermain Karate-Do sangat efektif dalam proses pembelajaran dan dapat meningkatkan kemampuan psikomotorik.

Jumat, 22 April 2016

GASHUKU BERBASIS EDUKASI

Gashuku Edukasi Adalah Kegiatan Gashuku yang bertujuan meningkatkan pengetahuan Anggota melalui metode - metode latihan yang memperkaya pengetahuan Anggota tentang Karate Tradisional dan Official (Karate Sports).

Selain itu Gashuku Edukasi bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan, persahabatan, kerja sama tim, dan menanamkan kecintaan kepada Perguruan sepanjang hayat.

Gashuku ditujukan kepada Anggota Senior, Atlet, dan pelatih, serta memberikan gambaran nyata kepada orang tua mengenai program pelatihan, pengembangan dan prestasi yang diberikan Perguruan Gojukai I.K.G.A.  kepada putra dan putri mereka.

Tujuan  lain dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan standar teknik para karateka sesuai dengan standardisasi kurikulum dari Gojukai internasional. Diharapkan, usai digelarnya kegiatan ini, teknik dan kemampuan para karateka Gojukai Indonesia akan semakin meningkat dan berkembang.

Ini adalah kesekian kalinya saya mengikuti  “gashuku”. Gashuku yang dalam bahasa Jepang berarti : “belajar” dan “menginap” adalah sebuah kegiatan belajar sambil menginap di satu tempat tertentu. Gashuku amat lazim diadakan di Jepang sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar entah di sekolah atau perguruan tinggi. Tujuannya adalah agar sebuah kegiatan, apakah itu dalam bentuk seminar, bimbingan, atau yang lain dapat diadakan lebih terfokus, konsen, dengan waktu yang lebih panjang. Kedua, untuk mengakrabkan. Dan terakhir sekaligus berdarmawisata (yang ini tentatif).
Teman-teman saya yang studi di Jepang kerap menyebut kegiatan ini sebagai seminar. Tetapi bukan seminar yang dipahami sebagai seminar biasa yang mengundang banyak orang. Lebih tepatnya seminar antar sesama rekan satu perguruan, angkatan kelas, satu lab, satu bimbingan atau satu pemahaman lainnya. Artinya tetap  sama saja dengan kegiatan belajar hanya harus menginap dan atau diadakan ditempat lain yang jauh dr tempat domisili.

Dan keesokan harinya pasca bimbingan dan pelatihan  selesai saatnya bersantai menikmati obyek wisata dimana kami menginap. Saat itulah saat yang paling ditunggu-tunggu setelah pelatihan dan setelah semua kelelahan usai.

Melalui gashuku ini diharapkan para peserta dapat mengembangkan sifat kejujuran (Gi), keberanian (Yuu), dan sopan santun (Rei), sehingga kemudian akan lahir para karateka yang positif (Seishin) dan memiliki semangat tinggi (Seiki).

Kegiatan Gashuku Anggota Karate-Do Gojukai I.K.G.A. Indonesia Komda DKI Jakarta
Sabtu-Minggu Tgl. 16-17 April 2016 Cijeruk Bogor Jawa Barat



MANFAAT KHUSUS GASHUKU

Melalui gashuku ini diharapkan para peserta dapat mengembangkan sifat kejujuran (Gi), keberanian (Yuu), dan sopan santun (Rei), sehingga kemudian akan lahir para karateka yang positif (Seishin) dan memiliki semangat tinggi (Seiki).

MEMAKNAI GASHUKU

MEMAKNAI GASHUKU

Untuk kesekian kalinya saya mengikuti  “gashuku”. Gashuku yang dalam bahasa Jepang berarti : “belajar” dan “menginap” adalah sebuah kegiatan belajar sambil menginap di satu tempat tertentu.

Gashuku amat lazim diadakan di Jepang sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar entah di sekolah, perguruan tinggi atau lembaga tradisional. Tujuannya adalah agar sebuah kegiatan, apakah itu dalam bentuk seminar, bimbingan, atau yang lain dapat diadakan lebih terfokus, konsen, dengan waktu yang lebih panjang. Kedua, untuk mengakrabkan. Dan terakhir sekaligus berdarmawisata (yang ini tentatif).

Teman-teman saya yang saat ini tengah menjalani studi di Jepang kerap menyebut kegiatan ini sebagai seminar. Tetapi bukan seminar yang dipahami sebagai seminar biasa yang mengundang banyak orang. Lebih tepatnya seminar antar sesama rekan satu perguruan, angkatan kelas, satu lab, satu bimbingan atau satu pemahaman lainnya. Artinya tetap  sama saja dengan kegiatan belajar hanya harus menginap dan atau diadakan ditempat lain yang jauh dari tempat tinggal.

Dan keesokan harinya pasca bimbingan dan pelatihan  selesai saatnya bersantai menikmati obyek wisata dimana tempat kami menginap. Saat itulah saat yang paling ditunggu-tunggu setelah pelatihan dan setelah semua kelelahan usai.

Bravo Gojukai I.K.G.A.



THE ENERGY of THE GOJUKAI KARATE-DO

  The Energy of The Gojukai Karate-Do   Introduction Karate-Do, born from the noble culture of Japanese society, has been developed by...